PEREMPUAN INDONESIA || Pagelaran wayang kulit terasa tidak lengkap dengan kehadiran sosok Sinden yang memiliki peranan sebagai pengisi suara untuk mengiringi tari tarian hingga menjadi narator jalannya cerita.
Melalui vocal khasnya yang merdu, Sinden membantu menciptkan suasana dan memberikan kedalaman emosional pada cerita yang disajikan oleh dalang dalam cerita lakon wayang kulit. Sehingga, mampu membuat penonton larut dalam alur pertunjukan.
Seperti pagelaran wayang kulit yang diadakan oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Kamis, (26/09/25) malam di Lapangan Direktorat untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta terhadap seni-budaya serta kearifan lokal generasi muda dan mahasiswa.
Dalam kesempatan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Cahyo Kuntadi tersebut, Unesa ingin mengajak masyarakat terutama generasi muda turtu berpartisipasi mengambil bagian penting dalam menjaga dan melestarikan seni budaya Indonesia.
Dengan menampilkan pertunjukan Karawitan Madhangkara, penampilan para Sinden semakin menghipnotis ribuan penonton yang terdiri Civitas Unesa, Mahasiswa serta masyarakat Surabaya.
Budi Raharjo (22) warga Wiyung Surabaya yang hadir bersama teman temannya mengaku baru kali pertama menyaksikan secara langsung seni budaya wayang kulit yang sebelumnya hanya dilihat melalui televisi.
“Ternyata sinden nya masih muda muda dan cantik. Suaranya benar benar luar biasa. Aku pikir sinden itu udah berusia lanjut. Apalagi sinden kan dituntut untuk bisa kuat duduk simpuh. Tidak semua orang bisa melakukannya,” tutur Budi merasa kagum.
Menurut Budi, tidak semua gadis remaja mau menjadi seorang sinden. Mungkin, karena menjadi seorang sinden itu tidak mudah. Harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas, dan keahlian vocal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang.
“Selain sinden, dalam cerita wayang Dalang memang harus memiliki skill yang luar biasa. Sehingga, cerita wayang kulit bisa terasa seru dan menghibur,” terangnya.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni, Martadi menuturkan bahwa, pagelaran Wayang Kulit ini sejalan dengan tiga keunggulan Unesa, yakni di bidang olahraga, disabilitas, serta seni dan budaya.
“Acara ini menjadi ruang untuk melestarikan sekaligus dinamisasi bagaimana seni budaya tradisional yang harus kita kenalkan kepada generasi muda khususnya mahasiswa Unesa. Serta, kita kembangkan agar anak muda punya kecintaan terhadap seni budaya daerahnya,” ungkap Martadi.
- Pewarta : Endah Chatur
- Foto : Istimewa (Kak Tulus)
- Penerbit : Tulus Black
